Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) oleh

H. Sugiarto, S.Pd, M.Si

Setiap anak yang lahir didunia memiliki potensi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda antara anak satu dan anak lainnya, sudah seharusnya sebagai orang tua atau masyarakat tidak menyamaratakan dan membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnnya. Sebaliknya kita sebagaai orang tua harus mengerti kekurangan, keterbatasan dan keistimewaan anak sejak dini baik dari segi fisik maupun psikis. Keterbatasan pada anak tersebut menyebabkan orangtua kurang mengerti dengan potensi yang dimiliki anak, hampir semua orang tua menginginkan anaknya sempurna baik dari segi fisik psikis dan akademiknya.

Sampai saat ini, masih banyak orangtua yang merasa malu apabila anak mereka memiliki keterbatasan-keterbatsan baik fisik, psikis maupun akademik, sehingga orang tua berusaha dan menjaga agar anaknya tidak berinteraksi dengan anak lain ataupun masyarakat. Disamping itu banyak juga masyarakat yang anaknya normal akan tetapi melarang anak mereka untuk bergaul dan berinteraksi dengan anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis ataupun akademik. Masyarakat umum yang belum mengerti menganggap bahwa jika anak mereka berinteraksi dengan anak yang mempunyai keterbatasan fisik, psikis maupun akademik maka anak mereka akan ikut tertular, itu adalah pandangan yang kurang tepat,sikap orang tua yang demikian itu akan membuat keadaan semakin parah dan menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang secara optimal.

Hal ini membuat ruang lingkup pergaulan anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis maupun akademik semakin sempit dan terbatas, anak yang memiliki keterbatasan akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, akan dianggap tidak mempunyai kemampuan, kecerdasan dan potensi lemah atau pendapat lainnya, anak akan semakin dang kurang memiliki masa depan yang cerah, lebih parah lagi anak akan dianggap sebagai anak yang hanya bisa merepotkana depanya.

Anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis ataupun akademik sering disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus dijelaskan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami keterbatasan/keluarbiasaan baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.
Secara umum Anak Berkebutuhan Khusus, atau yang sering disingkat sebagai ABKadalah suatu kondisi dimana anak memiliki karakteristik khusus yangberbeda dengan anak pada umumnya yaitu mengalami keterbatasan/keluarbiasaan baik pada fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Pendidikan Khusus Pasal 4 anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Tunanetra
  2. Tunarungu
  3. Tunawicara
  4. Tunagrahita
  5. Tunadaksa
  6. Tunalaras
  7. Berkesulitan belajar
  8. Lamban belajar
  9. Autis
  10. Memiliki gangguan motorik
  11. Menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain
  12. Memiliki kelainan lain

Berikut ini adalah penjelasan dari pengelompokan anak berkebutuhan khusus.

1. Tunanetra

Dimata masyarakat umum, tunanetra atau yang lebih dikenal dengan buta adalah seseorang yang tidak bisa melihat atau seseorang yang telah kehilangan fungsi penglihatannya, padahal pengertian tunanetra tidak sesempit itu, karena anak yang hanya mampu melihat dengan keterbatasan (low vision) juga disebut tunanetra, Seperti yang didefinisikan oleh Somantri (1996:54)anak tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan penglihatan, baik sebagian atau menyeluruh yang menyebabkan proses penerimaan informasi kurang optimal.

Gangguan penglihatan atau kebutaan karena kerusakan/kelainan pada mata seseorang, menyebabkan kemampuan indera penglihatan seseorang tidak dapat berfungsi dengan baik atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali. Penyebab kerusakan/kelainan itu bisa terjadi saat di dalam kandungan dan bisa juga terjadi setelah lahir. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam hal penglihatan, maka dalam proses pembelajarannya lebih menekankan pada alat indera yang lain yaitu indera perabaan dan pendengaran.

Karakteristik anak tunanetra menurut Somantri (2012: 66), yaitu:Dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas/normal dapat dibaca pada jarak 21 meter yang diukur dengan tessnellen card.Berdasarkan acuan tersebut, anak tunanetra dikelompokan menjadi 2 macam, yaitu:

1.    Buta jika anak tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar (visusnya = 0).

2.    Low vision jika anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika anak hanya mampu membacaheadline pada suarat kabar.

Indra penglihatan memiliki peran yang sangat penting dalam penerimaan informasi dan pengalaman, seseorang yang mengalami gangguan penglihatan baik sebagian ataupun menyeluruh sama-sama mengalami hambatan dan keterbatasan dalam pengalaman, kemampuan bergerak dalam lingkungan serta interaksi dalam lingkungan.

2. Tunarungu

Istilah tunarungu berasal dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya rusak atau cacat dan rungu artinya pendengaran, seseorang dapat dikatakan tunarungu apabila ia memiliki kerusakan/kelainan pada organ pendengarannya yang menyebabkan ia tidak dapat mendengar atau kurang mampu mendengar suara yang seharusnya mampu didengar orang normal.

“Tunarungu berarti kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan seluruh alat pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam perkembangan bahasa sehingga memerlukan bimbingan dan pelayanan khusus”. ( Salim,1984 : 8)Dikalangan masyarakat umum, tunarungu lebih dikenal dengan kata tuli, yaitu seseorang yang tidak mampu mendengar atau memiliki kerusakan pada organ dengarnya. Namun istilah tuli dimasyarakat  kadang lebih sering menuju kearah mengejek atau mencaci.

Tunarungu bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari dalam kandungan ataupun benturan keras yang menyebabkan kerusakan pada organ pendengaran. Klasifikasi lain dikemukakanolehStreng yang dikutipSomaddanHernawati( 1997 : 28-31 ) sebagaiberikut:

  • Mild Loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 20-30 dB yang  memiliki ciri- ciri :

  1. Sukar mendengar percakapan yang lemah.
  2. Menuntut sedikit perhatian  khususdari sistem sekolah tentang kesulitannya.
  3. Perlu latihan membaca ujaran dan perlu diperhatikan perkembangan penguasaan perbendaharaan kata.
  • Marginal Loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 30-40 dB yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

    1. Mengerti percakapan biasa pada jarak satu meter.

    2. Mereka sulit menangkap percakapan dengan pendengaran padajarak normal dan  kadang-kadang mereka mendapat kesulitan dan menangkap percakapan kelompok.

    3. Mereka akan sedikit mengalami kelainan bicara dan perbendaharaan kata yang terbatas.

    4. Kebutuhan dalam program pendidikan antara lain belajar membaca, penggunaan alat bantu dengar, latihan bicara, latihan artikulasi dan perhatian dalam perkembangan perbendaharaan kata.

  •  Moderat loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 40-60 dB yang   memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

    1. Mereka mengerti percakapan keras pada jarak satu meter.

    2. Perbendaharaan kata terbatas

  • yaitu kehilangan kemampuan mendengar 60-70 dB. Memiliki ciri-ciri :

Mereka masih biasa mendengar suara keras dari jarak yang dekat misalnya klakson mobil dan lolongan anjing. Mereka diajar dalam suatu kelas khusus untu kanak-anak tunarungu. Diperlukan latihan membaca ujaran dan pelajaran yang dapat mengembangkan bahasa dan bicaradari guru kelas khusus.

  • Profound loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 75 dB keatas. Memiliki ciri :

Mendengar suara yang keras pada jarak 1 inci (2,24 cm) atau sama sekali tidak mendengar walaupun menggunakan alat bantu dengar.

3. Tunagrahita

Sebagian besar masyarakat menganggap anak-anak tunagrahita adalah anak yang bodoh, lemot, lelet, idiot dan lain sebagainya. Anggapan itu membuat anak tunagrahita dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Anggapan itu juga membuat masyarakat menjauhi serta mengucilkan anak tunagrahita. Padahal anggapan yang beredar luas dimasyarakat adalah anggapan yang tidak tepat, darisudut bahasa atau istilah tunagrahita berasal dari kata “tuna” dan “grahita” tuna artinya rusak atau cacat dan grahita artinya berfikir. Definisi yang diterima secara luas dan menjadi rujukan utama ialah definisi yang dirumuskan oleh Grossman yang secara resmi digunakan AAMD (American Association of Mental Deficiency) yaitu ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan. Tunagrahita adalah seseorang yang mengalami hambatan fungsi kecerdasan intelektual dan adaptasi tingkah laku yang terjadi pada masa perkembangannya dan juga menyebabkan kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial.

Klasifikasi anak tunagrahita menurut AAMD (American Assosiation on Mental Deficiency) dan PP No. 72 tahun 1991 dalam Amin (1995:22-24) klasifikasi anak tunagrahita terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut :

  • Tunagrahita ringan

Mereka yang termasuk dalam kelompok ini meskipun kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

  • Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang memiliki kemampuan intelektual umum dan adaptasi perilaku di bawah tunagrahita ringan. Mereka dapat belajar keterampilan sekolah untuk tujuan-tujuan fungsional, mencapai suatu tingkat “tanggung jawab sosial” dan mencapai penyesuaian sebagai pekerja dengan bantuan.

  • Tunagrahita berat dan sangat berat

Anak yang tergolong dalam kelompok ini pada umumnya hampir tidak memiliki kemampuan untuk di latih mengurus diri sendiri melakukan sosialisasi dan bekerja. Di antara mereka (sampai batas tertentu) ada yang dapat mengurus diri sendiri dan dapat berkomunikasi secara sederhana serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang sangat terbatas.

4. Down Sindrom

Down Sindrom adalah gangguan genetika paling umum yang menyebabkan perbedaan kemampuan belajar dan ciri-ciri fisik tertentu yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom.Down Sindrom disebut juga penyakit genetik karena gangguan kromosom dengan ciri khas wajah universal (wajah mongoloid). Dimasyarakat sendiri, Down Sindrom lebih dikenal dengan anak seribu wajah, bukan karena wajah anak down sindrom ada seribu, melainkan karena ada banyak anak down sindrom dan wajah anak-anak down sindrom itu sama, down sindrom tidak bisa disembuhkan, namun dengan dukungan, perhatian dan kasih sayang, anak-anak dengan down sindrom bisa tumbuh dengan maksimal.

Anak-anak dengan down sindrom sangat membutuhkan bimbingan jauh melebihi anak normal lainnya. Perkembangan mereka dalam berbagai aspek memerlukan waktu, dan mereka akan menjalaninya bertahap, sesuai dengan kemampuan mereka.

5. Tunadaksa

Ketika kita bergaul dengan teman atau masyarakat sekitar sesekali kita akan bertemu dengan orang yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna, seperti berjalan menggunakan bantuan kursi roda karena tidak memiliki kaki ataupun memiliki kaki yang tidak mampu menopang berat tubuhnya, tidak dapat memegang gelas karena bentuk tangan yang tidak normal dan lain sebagainya. Seseorang yang seperti itu disebut dengan tunadaksa.

Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” dan “daksa”, tuna yang berarti rusak atau cacat dan “daksa” yang berarti tubuh. Menurut Sutjihati Somantri tunadaksa adalah suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kecelakaan, penyakit atau juga bisa disebabkan karena pembawaan sejak lahir.

Dimasyarakat sendiri istilah tunadaksa masih belum terlalu familiar, masyarakat menyebut tunadaksa dengan kata cacat atau cacat tubuh. Padahal kata cacat adalah kata yang kurang baik untuk di ucapkan, apalagi untuk anak berkebutuhan khusus.Tunadaksa yang dialami seseorang dapat terjadi karena bawaan dari lahir ataupun disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan.

Klasifikasi anak tunadaksa dilihat dari sistem kelainanya. Pada dasarnya kelainan pada anak tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) Kelainan pada sistem serebral (cerebral system), dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system)

1)      Kelainan pada sistem serebral (cerebral system disorders)

Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelompok kelainan sistem serebral didasarkan pada letak penyebab kelainan yang terletak di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syaraf pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum tulang belakang merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup manusia. Didalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah cerebral palsy.

2)      Kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system)

 Sistem otot dan rangka adalah bagian-bagian atau jaringan-jaringan yang membentuk    gugusan otot dan rangka sehingga terjadi koordinasi yang normal dan fungsional dalam menjalankan tugasnya.antara lain meliputi:

a). Poliomyelitis

b). Muscle dystrophy

c). Spina Bifida

3)      Kelainan tunadaksa karena bawaan (congenital deformities)

Kelainan tunadaksa atau cacat ortopedi dapat terjadi karena faktor bawaan yang disebabkan oleh faktor endogeen (gen) dari ayah, ibu, dari kedua-duanya, sehingga sel-sel pertama yang tumbuh menjadi bayi telah mengalami cacat, Kelainan ini terjadi karena faktor exogen, yaitu pada awal-awal pertumbuhan sel

6. Tunalaras

Saat di sekolah, kita pasti melihat anak yang sering melakukan pelanggaran, baik melanggar peraturan sekolah, peraturan kelas, peraturan guru dan lain sebagainya. Anak-anak yang melakukan pelanggaran dan sering dihukum oleh guru akan di cap nakal oleh teman-temannya. Anak-anak tersebut bisa disebut dengan tunalaras.

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

  1. Berkesulitan Belajar/lamban belajar

Seseorang dapat dikatakan berkesulitan belajar atau lamban belajar jika ia memiliki IQ normal namun jika dibandingkan dengan teman sebaya ia mengalami keterlambatan dalam proses pemahaman belajarnya.

7. Autis

Autis adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks yang gejalanya sudah terlihat sebelum anak berusia tiga tahun. Seseorang yang mengalami autisme memiliki gangguan dan masalah dalam berinteraksi dengan orang lain, kadang anak autisme terlihat sangat linglung, terkucil, terasing, tidak mau melakukan kontak mata dengan orang lain, tidak mau bermain bersama teman-temannya, sering mengulang gerakan-gerakan secara terus menerus dan berlebihan. Akibat gangguan ini seseorang yang mengidap gangguan autis sulit unutk belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya dan menyebabkan seolah-olah ia hidup dalam dunianya sendiri.

Menurut Yatim (2002) dalam YAI, anak autis dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

  • Autisme persepsi: dianggap autisme yang asli kerana kelainan sudah timbul sebelum lahir. Ketidak mampuan anak berbahasa termasuk pada penyimpangan reaksi terhadap rangsangan dari luar, begitu juga kemampuan anak bekerjasama dengan orang lain, sehinggaanak bersikap masa bodaoh.

  • Autisme reaksi: terjadi karena beberapa permasalahan yang di menimbulkan kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah rumah/sekolah dan sebagainya. Autisme ini akan memuncukan gerakan-gerakan tertentu berulang – ulang, kadang-kadang disertai kejang-kejang. Gejala ini muncul pada usia lebih besar enam sampai tujuh tahun sebelum anak memasuki tahapan berfikir logis.

  • Autisme yang timbul kemudian: terjadi setelah anak agak besar, dikarenakan kelainan jaringan otak yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit dalam hal pemberian pelatihan dan pelayanan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat.

 

Daftar Pustaka

  1. Somantri, T. S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

  2. Somantri, Sutjihati. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.

  3. Salim (1984). Pendidikan Anak Tuna rungu. Bandung : Alfabeta.

  4. Somad dan Hernawati (1997). Ortopedagogik anak tuna rungu. Jakarta : DEPDIKNAS

 


Fatal error: Maximum execution time of 30 seconds exceeded in /home/ktambfph/public_html/system/libraries/Session/drivers/Session_files_driver.php on line 253