PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM KERANGKA PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

Konsep pendidikan luar sekolah yang  muncul dalam studi kependidikan atas dasar hasil observasi dan pengalaman langsung atau tidak langsung  yang kemudian dibentuk sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaan ciri-ciri antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah. Disamping itu pendidikan luar sekolah memiliki pengertian, sistem, prinsip-prinsip, dan paradigma tersendiri yang relatif berbeda dengan yang digunakan oleh pendidikan sekolah (Sudjana, 2001:15).

Menurut konsep awal yang muncul akhir tahun 60-an/awal tahun 70-an, seperti misalnya yang dikemukakan oleh Coombs, pendidikan itu terbagi atas tiga jenis, yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal.

Dalam konteks Indonesia setelah keluar UU No. 2 tahun 1989 dan PP No.73 tahun 1991, istilah pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal tidak dipergunakan lagi. Yang dipergunakan adalah istilah pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah.  Menurut UU No.2 tahun 1989 dan PP No.73 tahun 1991, pendidikan diselenggarakan di dua jalur, yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar jalur (atau sistem) pendidikan sekolah, baik dilembagakan maupun tidak dilembagakan, yang tidah karus berjenjang dan berkesinambungan.

Tampaknya setelah UU Sistem Pendidikan Nasional diperbaharui menjadi UU No.20 tahun 2003, istilah pendidikan formal, nonformal, dan informal dipergunakan lagi. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang  berstruktur dan berjenjang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan  pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Jika dicermati dapat dikatakan bahwa pendidikan sekolah dilaksanakan di jalur pendidikan formal, sedangkan pendidikan luar sekolah dilaksanakan di jalur pendidikan nonformal dan informal.

Satuan pendidikan nonformal tersebut terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis (lihat pasal 26 ayat 4). Di samping itu, dalam pasal 26 ayat 5 dijelaskan pula bahwa kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

a.   Ditinjau dari segi pelayanan, sasaran PLS adalah melayani anak usia pra-sekolah  (0-6 tahun), anak usia sekolah dasar (7-12 tahun), usia pendidikan menengah (13-18 tahun), dan perguruan tinggi (19-24 tahun).

  • Ditinjau dari segi sasaran khusus, sasaran PLS adalah mendidik anak terlantar, anak yatim-piatu, anak korban narkoba, WTS, anak cacat mental ataupun cacat tubuh. ditinjau dari segi pranata adalah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di lingkungan keluarga, pendidikan perluasan wawasan desa danpendidikan keterampilan. Jika ditinjau dari segi jenis kelamin, sasaran PLS antarala lain adalah membantu masyarakat melalui program PKK, KB, perawatan bayi, peningkatan gizi keluarga, pengetahuan rumah tangga dan penjagaan lingkungan sehat.
  • Ditinjau dari segi sistem pengajaran, sasaran PLS adalah sebagai penyelenggara dan pelaksana program kelompok, organisasi dan lembaga pendidikan; program kesenian tradisional, ataupun kesenian modern lainnya yaitu menjadi fasilitator bahkan turut serta dalam program keagamaan, seperti mengisi pengajaran di majelis taklim, di pondok pesantren dan bahkan di beberapa tempat kursus.
  • Sasaran PLS ditinjau dari segi pelembagaan yaitu kemitraan atau bermitra dengan berbagai pihak penyelenggara program pemberdayaan masyarakat berkoordinasi dengan desa atau pelaksanaan program pembangunan.

Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan pendidikan sekolah, dan dalam kaitan dengan dunia kerja serta kehidupan. Dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan sekolah, fungsi pendidikan luar sekolah adalah sebagai subtitusi, komplemen, dan suplemen. Dalam kaitan dengan dunia kerja, pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai kegiatan yang menjebatani seseorang masuk kedunia kerja. Sedangkan dalam kaitan dengan kehidupan, pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan seseorang.

Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai subtitusi pendidikan sekolah. Subtitusi atau pengganti di sini mengandung makna bahwa pendidikan luar sekolah sepenuhnya menggantikan pendidikan sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang dberikan adalah sama seperti yang diberikan di pendidikan sekolah. Contohnya adalah pendidikan kesetaraan, seperti Paket A setara dengan SD yang disajikan untuk anak usia 7 – 12 tahun yang tidak memiliki kesempatan masuk SD. Paket B setara dengan SLTP bagi anak usia 13 – 15 tahun, dan Paket C setara SMU bagi remaja usia SMU. Setelah peserta didik menamatkan studinya dan lulus ujian akhir, mereka memperoleh ijazah yang setara (SD, SLTP, atau SMU).

Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai komlemen pendidikan sekolah. Komplemen berarti pelengkap. Pendidikan luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang meterinya melengkapi apa yang diperoleh di bangku sekolah. Mengapa materi pendidikan di sekolah masih harus dilengkapi? Pertama, karena tidak semua hal yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituang-kan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian jalur pendidikan luar sekolah merupakan wahana paling tepat untuk mengisi kebutuhan mereka. Kedua, memang ada kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang tidak biasa diajarkan di sekolah, seperti misalnya olah raga prestasi, belajar bahasa asing di SD, dan sebagainya. Untuk pemenuhan kebutuhan belajar macam itu pendidikan luar sekolah merupakan saluran yang tepat. Bentuk-bentuk pendidikan luar sekolah yang berfungsi sebagai komplemen pendidikan sekolah dapat berupa kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti kegiatan ekstra kulikuler (pramuka, latihan drama, seni suara). Atau kegiatan yang dilakukan di luar sekolah. Kegiatan terakhir ini dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan masyarakat dalam bentuk berbagai kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.

Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai suplemen pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya menberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah. Sasaran populasi pendidikan luar sekolah sebagai suplemen adalah anak-anak, remaja, pemuda, atau orang dewasa, yang telah menyesuaikan jenjang pendidikan sekolah tertentu (SD sampai dengan perguruan tinggi). Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap tertentu sebagai tambahan pendidikan yang diperoleh di sekolah? Pertama, perkembangan ilmu dan teknologi berlangsung sangat cepat, sehingga kurikulum sekolah sering ketinggalan. Oleh karena itu lulusan pendidikan sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dilakukan melalui wahana pendidikan luar sekolah. Kedua, pada umumnya lulusan pendidikan sekolah belum sepenuhnya siap terjun ke dunia kerja. Maka untuk itu lulusan tersebut perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminta oleh dunia kerja, melalui pendidikan luar sekolah. Ketiga, proses belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup. Walaupun telah menamatkan pendidikan sekolah samapai jenjang tertinggi, seseorang masih perlu belajar untuk tetap menyelaraskan hidupnya dengan erkembangan dan tuntutan lingkungannya.

Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai jembatan memasuki dunia kerja. Di atas telah disinggung bahwa pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah memasuki dunia kerja. Lepas dari kaitanya dengan sekolah, pendidikan luar sekolah itu berfungsi sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja, apakah oerang tersebut memiliki ijazah pendidikan sekolah atau tidak. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur pendidikan luar sekolah dan dia belum memiliki pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan sekolah yang bisa membawanya ke dunia pekerjaan.

Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan. Bertahan hidup haruslah melalui pembelajaran. Tidaklah mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk mengembangkan mutu kehidupannya, seseorang harus melakukan proses pembelajaran. Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. 

Secara filosofis pendidikan merupakan hak yang sangat mendasar bagi manusia Sebagai hak bagi manusia maka pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa atau negara. Dalam konteks ini pendidikan berfungsi untuk pembebasan (kemerdekaan) manusia dari kebodohan, ketertinggalan, dan eksploitasi. Dengan pendidikan dapat mengembangkan kemampuan, mutu, dan martabat kehidupan suatu bangsa. Konsep inilah yang kemudian melahirkan konsep pendidikan untuk semua (education for all).

PLS mengalami perkembangan yang muncul dalam studi kependidikan atas dasar hasil observasi dan pengalaman langsung atau tidak langsung yang kegiatannya mencakup: pendidikan nonformal dan informal. Karakteristik PLS meliputi tujuan berorientasi ketermpilan, waktu penyelenggaraan singkat, kurikulum kafetaria, metote partisipatif, pengginaan sumber-sumber lokal. Fungsi PLS dalam kaitannya dengan pendidikan sekolah


Fatal error: Maximum execution time of 30 seconds exceeded in /home/ktambfph/public_html/system/libraries/Session/drivers/Session_files_driver.php on line 253